BAB II
KAJIAN LITERATUR
2.1 Waterfront City
2.1.1 Pengertian Waterfront City
Konsep ini berawal dari pemikiran seorang ‘urban visioner’ Amerika yaitu James
Rouse di tahun 1970-an. Saat itu, kota-kota bandar di Amerika mengalami proses
pengkumuhan yang mengkhawatirkan. Kota Baltimore merupakan salah satunya.
Karena itu penerapan visi James Pouse yang didukung oleh pemerintah setempat sehingga
akhirnya mampu memulihkan kota dan memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi
yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep pembangunan kota pantai/pesisir
dilahirkan.
Waterfront
City adalah konsep
pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau.
Pengertian ‘Waterfront’ dalam Bahasa
Indonesia secara harfiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan
dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Waterfront City/ Development juga dapat diartikan sebagai proses dari
hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian
dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada
dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi
berorientasi ke arah perairan.
Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
dalam Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan bahwa kota pesisir atau waterfront city merupakan suatu kawasan
yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan
sejenisnya. Pada awalnya waterfront tumbuh
di wilayah yang memiliki tepian (laut,sungai, danau) yang potensial, antara
lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di
sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar
dan kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman
gelombang dan serangan musuh.
Prinsip perancangan Waterfront
City adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukkan berbagai
aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota
atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang
terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai,
danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi
air adalah area yang dibatasi oleh air, yang dalam pengembangannya mampu
memasukkan nilai manusia yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami.
Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan
kawasan. Komponen penataan merupakan unsur yang diatur dalam prinsip
perancangan sesuai dengan aspek yang dipertimbangkan.Variabel penataan adalah
elemen penataan kawasan yang merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel
penataan kawasan dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam
penataan kawasan tepi air baik didalam maupun luar negeri dan hasil pengamatan
di kawasan studi (Sastrawati,2003).
2.1.2 Jenis-Jenis Waterfront
Berdasarkan tipe proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi 3
jenis, yaitu konservasi, pembangunan kembali (redevelopment), dan pengembangan (development). Konservasi adalah penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan
menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat. Redevelopment
adalah upaya menghidupkan kembali fungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk
kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas
yang ada. Development adalah usaha
menciptakan waterfront yang memenuhi
kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan mereklamasi pantai.
Berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi 4
jenis, yaitu mixed-used waterfont,
recreational waterfront, residential waterfront, dan working waterfront (Breen, 1996). Mixed-Used waterfront adalah waterfront
yang merupakan kombinasi dari perumahan, perkantoran, restoran, pasar,
rumah sakit, dan/ atau tempat-tempat kebudayaan. Recreational Waterfront adalah semua kawasan waterfront yang menyediakan sarana-sarana dan prasarana untuk
kegiatan rekreasi, seperti taman, area bermain, tempat pemancingan, dan
fasilitas untuk kapal pesiar. Residential
waterfront adalah perumahan, apartemen, dan resort yang dibangun dipinggir perairan. Working waterfront adalah tempat-tempat penangkapan ikan komersial,
reparasi kapal pesiar, industri berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan.
2.1.3 Kriteria Waterfront
Kriteria umum dari penataan dan pendesainan waterfront adalah (Prabudiantoro, 1997):
· Berlokasi
dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai dan
sebagainya)
·
Biasanya
merupakan area pelabuhan, perdagangan, permukiman, atau pariwisata.
·
Memiliki
fungsi-fungsi utama sebagai tempat rekreasi, permukiman, industri, atau
pelabuhan.
·
Dominan
dengan pemandangan dan orientasi ke arah perairan.
·
Pembangunannya
dilakukan ke arah vertikal-horisontal.
2.1.4 Area Perencanaan Waterfront
Dalam perencanaan waterfront
ada 3 aspek yang dominan, yaitu aspek arsitektural, aspek keteknikan, dan
aspek sosial budaya. Aspek arsitektural berkaitan dengan pembentukan citra (image) dari kawasan waterfront dan bagaimana menciptakan kawasan waterfront yang memenuhi nilai-nilai estetika. Aspek keteknikan
berkaitan terutama dalam perencanaan struktur dan teknologi konstruksi yang
dapat mengatasi kendala-kendala dalam mewujudkan rancangan waterfront, seperti stabilisasi perairan, banjir, erosi, kondisi
alam, dan sebagainya. Aspek sosial budaya bertujuan untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan waterfront tersebut.
2.1.5 Elemen-elemen
Perencanaan Waterfront
Perencanaan waterfront
meliputi proses pembentukan zona, pengaturan zona-zona fungsi, akses
transportasi/sirkulasi, pengolahan ruang publik (public space), tatanan massa bangunan, dan pengolahan limbah (sanitasi).
Pola penyusunan dan perkembangan tata letak yang
merupakan proses pembentukan suatu area waterfront
sebagai berikut (Wrenn, 1983):
·
Awalnya
berkembang dari arah perairan, yaitu dengan dibangunnya beberapa sarana yang
menunjang fungsi utama dari area waterfront.
·
Ketika
area waterfront mulai ramai
dikunjungi dan ditempati orang maka terjadilah perluasan lokasi dan penyebaran
ke arah daratan.
·
Pertambahan
penduduk yang tinggal mendorong munculnya beberapa sarana penunjang lainnya,
seperti dermaga kecil, jalur sirkulasi
tambahan, dan sebagainya.
·
Seiring
pertambahan penduduk dan aktivitas yang semakin banyak maka dibuatlah beberapa
saluran kanal di area waterfront. Hal
ini bertujuan untuk tetap mempertahankan ikatan visual dan karakter pada area waterfront, dan membuat pemisah buatan
yang memisahkan secara jelas fungsi-fungsi yang ada pada site.
Pola susunan massa dan ruang pada zona-zona yang berada
di area waterfront harus mengacu dan
berorientasi ke arah perairan. Apabila hal ini tidak diterapkan maka area
tersebut akan kehilangan ciri khas dan karakternya sebagai waterfront. Zona-zona yanng ada di area waterfront tercipta karena area waterfront
merupakan suatu area yang menjadi tempat bertemu dan berintegrasinya
beberapa fungsi kegiatan menjadi satu. Pada umumnya, zona yang berada langsung
berbatasan dengan daerah perairan utama mempunyai fungsi-fungsi kegiatan utama
yang bersifat publik sehingga dapat diakses dari segala arah oleh semua orang. Setelah
zona utama terbentuk barulah kemudian disekitarnya dibangun zona-zona ruang
yang lebih kecil yang berisi fungsi-fungsi penunjang kawasan utama tersebut
atau berisi daerah permukiman penduduk.
2.2
Mangrove
2.2.1 Definisi
Mangrove
Kata
mangrove berasal dari kata mangue (bahasa
Portugis) yang berarti tumbuhan, dengan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar. Sementara itu dalam
literatur lain disebutkan bahwa istilah mangrove berasal dari kata mangi-mangi (bahasa Melayu Kuno).
Kata
mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau
masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas dan
kedua sebagai individu spesies (Supriharyono, 2000). Mangrove adalah pohon atau
perdu yang tumbuh di pantai di antara batas-batas permukaan air pasang
tertinggi dan sedikit di atas rata-rata permukaan air laut (Hardjosentono,
1978). Selanjutnya Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian (1982)
mendefinisikan hutan mangrove lebih spesifik lagi, yaitu tumbuhan yang
berkembang di daerah tropika dan sub tropika pantai di antara batas-batas
permukaan air pasang dan sedikit di atas rata-rata dari permukaan air laut.
Hutan
mangrove sering disebut hutan bakau. Istilah hutan bakau hanya merupakan nama
dari salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove yaitu jenis Rhizophora
sp. Mangrove sudah ditetapkan sebagai nama baku untuk mangrove forest (Dahuri
dan Arumsyah, 1994). Hutan mangrove sering dianggap sebagai suatu ekosistem
lain dan mempunyai ciri-ciri khusus baik dari segi iklim, formasi tumbuhan dan
faktor edafis. Hutan mangrove disebut juga hutan pantai (coastal woodland)
atau hutan pasang surut (tidal forest). Hutan mangrove merupakan formasi
hutan yang tumbuh dan berkembang pada daerah landai di muara sungai dan pesisir
pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
2.2.2 Fungsi
Hutan Mangrove
Hutan mangrove memiliki
peran ekologis yang besar bagi kehidupan manusia. Telah berabad-abad lamanya
dijadikan tumpuan jutaan orang yang hidup di pesisir. Hutan ini memiliki banyak
fungsi mulai dari penyedia sumber makanan, bahan baku industri, mencegah
banjir, mencegah erosi, hingga fungsi rekreasi. Berikut ini beberapa fungsi
utama hutan mangrove:
1.
Menahan Abrasi
Hutan mangrove tumbuh
disepanjang garis pantai seakan-akan memisahkan antara lautan dan daratan.
Keberadaan mangrove menghambat gelombang dan angin yang datang dari arah laut
agar tidak langsung membentur daratan. Di daerah-daerah yang memiliki tutupan mangrove
hampir tidak ditemukan aberasi parah. Bahkan di daerah-daerah tertentu
keberadaan mangrove melindungi pemukiman, pertanian dan fasilitas lain yang
terdapat dibelakangnya.
2.
Membentuk Lahan Baru
Vegetasi mangrove
mempunyai kemampuan untuk memerangkap sedimen lumpur yang di bawa dari arah
daratan. Akar-akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, terjadi
konsolidasi sedimen di hutan mangrove. Sifat memerangkap sedimen ini
dihubungkan dengan kemampuan hutan mangrove untuk menciptakan daratan baru.
Pertumbuhan hutan mengrove yang terus merangsek ke laut disinyalir bisa
menambah luas daratan, meski hal ini masih diperdebatkan.
3.
Mencegah Intrusi Air
Laut
Beberapa jenis mangrove
mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap salinitas air laut. Salah
satunya dengan kelenjar khusus pada daun yang dapat mengeluarkan garam. Lapisan
mangrove paling depan (mengarah ke laut) biasanya mempunyai kemampuan
beradaptasi dengan salinitas tinggi. Semakin ke belakang areal mangrove semakin
tawar. Dengan adanya kemampuan ini, hutan mangrove dipercaya bisa mencegah intrusi
air laut.
4.
Menyediakan Makanan Dan
Material
Sudah diketahui sejak
lama bahwa hutan mangrove merupakan tempat berkembang biak ikan, udang,
kepiting, moluska dan hewan-hewan lainnya. Keberadaan hutan mangrove
berkorelasi positif dengan produksi perikanan setempat. Ikan-ikan bernilai
komersial tinggi banyak yang mengandalkan mangrove sebagai tempat regenerasi.
Sebagai contoh, menurunnya produksi ikan di Bagan Siapi-api disebabkan oleh
rusaknya habitat mangrove. Padahal di era perang dunia II daerah ini merupakan
penghasil ikan utama dunia. Selain sumber makanan, hutan mangrove juga diambil
kayunya untuk bahan bangunan dan industri. Konon pulp yang diambil dari kayu
mangrove merupakan bahan untuk kertas premium. Kayu bakar dari mangrove juga
terkenal bermutu tinggi. Selain itu, mangrove dimanfaatkan untuk diambil
tanin-nya.
5. Sumber keanekaragaman hayati
Hutan mangrove
merupakan sumber plasma nutfah dan keanekaragaman hayati. Selain ikan, hutan
ini menjadi habitat hidup berbagai satwa mulai yang umum hingga satwa langka.
Mulai dari jenis-jenis burung hingga primata.
2.2.3 Zonasi
Hutan Mangrove
Menurut
Bengen (2001) flora mangrove umumnya tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir
pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan
tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi
yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran)
dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan
mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam
mengontrol zonasi adalah :
1.
Pasang surut yang
secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus
pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
2.
Tipe tanah yang secara
tidak langsung menentukan tingkat erosi tanah, tingginya muka air dan drainase.
3.
Kadar garam tanah dan
air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam serta pasokan
dan aliran air tawar.
4. Cahaya yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora,
Avicennia dan Sonneratia.
5.
Pasokan dan aliran air
tawar
Menurut
struktur ekosistem, secara garis besar dikenal tiga tipe formasi mangrove,
yaitu :
1.
Mangrove Pantai : tipe
ini air laut dominan dipengaruhi air sungai. Struktur horizontal formasi ini
dari arah laut ke arah darat adalah mulai dari tumbuhan pionir (Avicennia sp),
diikuti oleh komunitas campuran Soneratia alba, Rhizophora apiculata,
selanjutnya komunitas murni Rhizophora sp dan akhirnya komunitas
campuran Rhizophora–Bruguiera. Bila genangan berlanjut, akan ditemui
komunitas murni Nypa fructicans di belakang komunitas campuran yang
terakhir
2.
Mangrove Muara:
pengaruh oleh air laut sama dengan pengaruh air sungai. Mangrove muara
dicirikan oleh mintakat tipis Rhizophora spp. Di tepian alur, diikuti
komunitas campuran Rhizophora – Bruguiera dan diakhiri komunitas murni N.
fructicans
3.
Mangrove sungai :
pengaruh oleh air sungai lebih dominan daripada air laut, dan berkembang pada
tepian sungai yang relatif jauh dari muara. Jenis-jenis mangrove banyak
berasosiasi dengan komunitas daratan.
Berdasarkan
Bengen (2001), jenis-jenis pohon penyusun hutan mangrove, umumnya mangrove di
Indonesia jika dirunut dari arah laut ke arah daratan biasanya dapat dibedakan
menjadi 4 zonasi yaitu sebagai berikut :
1.
Zona Api-api – Prepat (Avicennia
– Sonneratia)
Terletak paling
luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek
(dangkal), dengan substrat agak berpasir, sedikit bahan organik dan kadar garam
agak tinggi. Zona ini biasanya didominasi oleh jenis api-api (Avicennia spp)
dan prepat (Sonneratia spp), dan biasanya berasosiasi dengan jenis bakau
(Rhizophora spp).
2.
Zona Bakau (Rhizophora)
Biasanya terletak di
belakang api-api dan prepat, keadaan tanah berlumpur lembek. Pada umumnya
didominasi bakau (Rhizophora spp) dan di beberapa tempat dijumpai
berasosiasi dengan jenis lain seperti tanjang ( Bruguiera spp )
3.
Zona Tanjang (Bruguiera)
Terletak di belakang
zona bakau, agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak
keras, agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya ditumbuhi jenis tanjang (Bruguiera
spp) dan di beberapa tempat berasosiasi dengan jenis lain.
4.
Zona Nipah (N
fruticans)
Terletak paling jauh
dari laut atau paling dekat ke arah darat. Zona ini mengandung air dengan
salinitas sangat rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang
dipengaruhi pasang surut dan kebanyakan berada di tepitepi sungai dekat laut.
Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (N fruticans) dan beberapa spesies
palem lainnya.
2.3 Best
Practice
Best practice yang digunakan
untuk mendukung konsep ada tiga jenis, yakni:
1.
Mangrove
Information Center (Pusat Informasi Mangrove) di Bali Selatan.
Lokasi kawasan mangrove tersebut di bypass Ngurah Rai.Wisata mangrove di
Bali ini berbasis pada pemberdayaan atau budidaya mangrove. Wisata disini
menyajikan tracking mangrove dimana
wisatawan dapat menelusuri hutan mangrove hanya dengan berjalan kaki melalui
jembatan-jembatan kayu di sepanjang hutan mangrove. Tidak hanya pemandangan
mangrove yang akan terlihat selama menelusiri jembatan ini, wisatawan juga
dapat melihat spesies-spesies lain seperti burung-burung dan berbagai tanaman
lainnya. Wisata mangrove ini sudah dikunjung oleh banyak wisatawan asing maupun
wisatawan lokal. Promosi yang dilakukanpun sangat gencar melalui iklan-iklan tour yang ada di website.
Aspek
pengembangan dari perancangan kawasan mangrove yang akan dilakukan di Kelurahan
Mangunharjo tidak jauh berbeda dengan pengembangan kawasan mangrove yang
terletak di Bali. Pada dasarnya penetapan konsep “Wisata Keluarga Hutan
Mangrove Mangunharjo” di Kelurahan Mangunharjo ini nantinya akan fasilitasi
dengan mangrove trail berupajembatan-jembatan
kayu di sepanjang hutan mangrove agar pengunjung bisa mengenal mangrove lebih
dekat. Untuk mengelilingi kawasan mangrove juga disediakan port yang ramah lingkungan dilengkapi dengan parkirnya.
2.
Wisata Anyar
Mangrove di Surabaya.
Wisata Anyar Mangrove adalah objek
wisata mangrove di Surabaya yang berada di sisi timur Kota Surabaya, tepatnya
di Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Hutan mangrove ini adalah salah satu potensi
konservasi alam yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata di Kota Surabaya.
Berkembang dari keinginan untuk menyelamatkan kawasan ini dari kerusakan
abrasi, dengan swadaya masyarakat kawasan tersebut telah berhasil disulap
menjadi sebuah kawasan wisata alam di Surabaya. Hutan mangrove yang membentang
luas ini dihuni oleh 147 spesies burung, ada 12 spesies diantara keseluruhan
yang merupakan jenis hewan yang dilindungi.
Beberapa jenis burung yang kerap
terlihat adalah burung air seperti kuntul perak, kowak malam, mandar padi,
pecuk hitam, dan mandar batu. Diketahui 44 di antaranya merupakan jenis burung
igran yang singgah dan tidak menetap. Burung migran ini kebanyakan berasal dari
Australia dan menuju Eropa. Pengunjung dapat menelusuri kawasan mangrove dengan
menggunakan perahu motor atau dengan berjalan kaki menggunakan
jembatan-jembatan kayu. Adanya spesies yang beragam membuat kawasan mangrove
memiliki kesan nyaman dan sejuk. Adanya keanekaragaman spesies pada kawasan
mangrove tersebut menimbulkan potensi yang dapat dijadikan sebuah wisata
edukasi dengan melihat karakteristik anatomi flora maupun fauna yang ada pada
kawasan mangrove.
Perancangan mangrove yang ada di Surabaya dipilih sebagai
salah satu best practice dikarenakan
adanya abrasi yang juga pernah terjadi di Kelurahan Mangunharjo sebagai wilayah
studi. Aspek yang akan dikembangkan dalam konsep perencanaan juga memperhatikan
aspek konservasi dengan tujuan mencegah rob dan abrasi pantai di Pantai Utara
Kota Semarang. Dalam mewujudkannya, konsep perancangan “Wisata Keluarga Hutan
Mangrove Mangunharjo” akan dilakukan
pembibitan dan pemeliharaan mangrove. Diharapkan, dengan peningkatan hutan
mangrove bisa menjadi wisata alam dimana terdapat flora dan fauna yang
beranekaragam spesiesnya, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi
tapi juga edukasi bagi pengunjung. Keberadaan mangrove trail membantu pengunjung untuk dapat mengenali flora
maupun fauna yang ada pada kawasan tersebut lebih dekat dengan berjalan kaki.
3.
Kawasan
Mangrove di Taman Sundarbans, India.
Penanaman mangrove di Taman Sundarbans
dilakukan dengan pendampingan khusus guna mencegah penanaman yang tidak sesuai
dengan zonasi yang telah ditetapkan yang nantinya akan mengakibatkan rusaknya
ekosistem yang ada. Selain itu, pada kawasan mangrove di Taman Sundarbans, India
juga terdapat zona-zona perlindungan dan lokasi penelitian sehingga kegiatan
wisata tidak mengganggu habitat biota yang ada. Pengunjung juga dapat ikut
serta dalam beberapa penelitian yang dilakukan di lapangan, akan tetapi setiap
wisatawan yang berkunjung harus memiliki izin yang dikeluarkan langsung oleh
pihak Dinas kehutanan. Kawasan mangrove tersebut nantinya akan dilengkapi
dengan sarana dan prasarana dengan zonasi kawasan yang jelas dan tertata rapi. Lokasi
kawasan wisata tersebut juga dilengkapi
dengan fasilitas wisata kuliner, toko souvenir dan fasilitas pendukung lain
yang dapat dijadikan lahan bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan.
Perancangan
kawasan mangrove yang ada di Taman Sundarbans dipilih sebagai salah satu best practice mengingat konsep “Wisata
Keluarga Hutan Mangrove Mangunharjo”, ini akan dilengkapi dengan pusat
penelitian ekosistem mangrove. Pusat penelitian ini akan difungsikan sebagaibentuk pusat pembelajaran guna mengantisipasi
masalah atau ancaman yang terjadi pada hutan mangrove. Wilayah pesisir
merupakan habitat utama dari hutan mangrove yang kadang memicu konflik
kepentingan, sehingga ekosistem di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman
dan masalah perusakan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Melalui pusat
penelitian ini diharapkan, dampak dari perancangan kawasan yang direncanakan
tidak membawa kerugian bagi ekosistem mangrove yang ada. Oleh karena itu perlu
pengawasan untuk mencari langkah-langkah strategis bagi pengembangan hutan
mangrove selanjutnya.
Sesuai dengan konsep wisata mangrove keluarga
ini, dalam perancangan kawasan akan dilengkapi dengan adanya sarana dan
prasarana yang mendukung, seperti resort
pantai keluarga, area pemancingan dan pembudidayaan ikan dan udang, dan ocean front resto. Adanya keberadaan
fasilitas-fasilitas tersebut nantinya akan mempermudah promosi lokasi wisata
dengan sebuah konsep paket wisata lengkap ketika mengunjunginya. Selain itu,
perancangan kawasan wisata mangrovekeluarga ini tidak hanya memperhatikan kondisi fisik kawasan saja, melainkan juga memperhatikan pola masyarakat yang
tinggal di sekitar kawasan mangrove yang terletak di Mangunharjo. Pada dasarnya
pentingnya penekanan partisipatif masyarakat sangat diperlukan, dimana
masyarakat tidak melakukan pemeliharaan hanya dengan tujuan ekonomi melainkan diimbangi
dengan tujuan ekologis demi keberlangsungan mangrove.
2.4 Bad Practice
Sumber : Anonim, 2010
Gambar 2. 1 Jembatan Kawasan Wisata Sei
Carang Tanjungpinang
Wisata
Mangrove Sei Carang Tanjungpinang merupakan salah satu contoh kawasan wisata
mangrove yang gagal dalam pemanfaatannya. Kondisi objek wisata hutan mangrove
yang terletak di Sungai Carang sangat memprihatinkan termasuk jembatan yang
biasa digunakan oleh wisatawan untuk menyusuri hutan mangrove tersebut
mengalami kerusakan parah. Jembatan yang terbuat dari kayu tersebut sudah
banyak yang lapuk dan terlepas dari penyangga. Bahkan, pegangan pada jembatan
pun sudah tidak ada lagi. Kondisi ini akan sangat membahayakan bagi wisatawan
yang berkunjung. Hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam
perancangan kawasan wisata Mangunharjo yang juga merancang mangrove trail. Mangrove
trail dalam rancangan wilayah studi bukanlah satu-satunya jalur
transportasi yang digunakan untuk pengunjung. Hal ini dapat mengurangi resiko
pelapukan kayu secara cepat karena kapasitas orang yang melewatinya terbagi
dengan jalur lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar