Senin, 28 Desember 2015

BAB II

KAJIAN LITERATUR


2.1        Waterfront City

2.1.1    Pengertian Waterfront City

Konsep ini berawal dari pemikiran seorang ‘urban visioner’ Amerika yaitu James Rouse di tahun 1970-an. Saat itu, kota-kota bandar di Amerika mengalami proses pengkumuhan yang mengkhawatirkan. Kota Baltimore merupakan salah satunya. Karena itu penerapan visi James Pouse yang didukung oleh pemerintah setempat sehingga akhirnya mampu memulihkan kota dan memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep pembangunan kota pantai/pesisir dilahirkan.
Waterfront City adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau. Pengertian ‘Waterfront’ dalam Bahasa Indonesia secara harfiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Waterfront City/ Development juga dapat diartikan sebagai proses dari hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air dimana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan.
Menurut direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan bahwa kota pesisir atau waterfront city merupakan suatu kawasan yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau dan sejenisnya. Pada awalnya waterfront tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut,sungai, danau) yang potensial, antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang dan serangan musuh.
Prinsip perancangan Waterfront City adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukkan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air, yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai manusia yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami. Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan kawasan. Komponen penataan merupakan unsur yang diatur dalam prinsip perancangan sesuai dengan aspek yang dipertimbangkan.Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan yang merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel penataan kawasan dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam penataan kawasan tepi air baik didalam maupun luar negeri dan hasil pengamatan di kawasan studi (Sastrawati,2003).

2.1.2    Jenis-Jenis Waterfront

Berdasarkan tipe proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu konservasi, pembangunan kembali (redevelopment), dan pengembangan (development). Konservasi adalah penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat. Redevelopment adalah upaya menghidupkan kembali fungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada. Development adalah usaha menciptakan waterfront yang memenuhi kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan mereklamasi pantai.
Berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu mixed-used waterfont, recreational waterfront, residential waterfront, dan working waterfront (Breen, 1996). Mixed-Used waterfront adalah waterfront yang merupakan kombinasi dari perumahan, perkantoran, restoran, pasar, rumah sakit, dan/ atau tempat-tempat kebudayaan. Recreational Waterfront adalah semua kawasan waterfront yang menyediakan sarana-sarana dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti taman, area bermain, tempat pemancingan, dan fasilitas untuk kapal pesiar. Residential waterfront adalah perumahan, apartemen, dan resort yang dibangun dipinggir perairan. Working waterfront adalah tempat-tempat penangkapan ikan komersial, reparasi kapal pesiar, industri berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan.

2.1.3    Kriteria Waterfront

Kriteria umum dari penataan dan pendesainan waterfront adalah (Prabudiantoro, 1997):
·    Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai dan sebagainya)
·           Biasanya merupakan area pelabuhan, perdagangan, permukiman, atau pariwisata.
·           Memiliki fungsi-fungsi utama sebagai tempat rekreasi, permukiman, industri, atau pelabuhan.
·           Dominan dengan pemandangan dan orientasi ke arah perairan.
·           Pembangunannya dilakukan ke arah vertikal-horisontal.

2.1.4    Area Perencanaan Waterfront

Dalam perencanaan waterfront ada 3 aspek yang dominan, yaitu aspek arsitektural, aspek keteknikan, dan aspek sosial budaya. Aspek arsitektural berkaitan dengan pembentukan citra (image) dari kawasan waterfront dan bagaimana menciptakan kawasan waterfront yang memenuhi nilai-nilai estetika. Aspek keteknikan berkaitan terutama dalam perencanaan struktur dan teknologi konstruksi yang dapat mengatasi kendala-kendala dalam mewujudkan rancangan waterfront, seperti stabilisasi perairan, banjir, erosi, kondisi alam, dan sebagainya. Aspek sosial budaya bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan waterfront tersebut.

2.1.5    Elemen-elemen Perencanaan Waterfront

Perencanaan waterfront meliputi proses pembentukan zona, pengaturan zona-zona fungsi, akses transportasi/sirkulasi, pengolahan ruang publik (public space), tatanan massa bangunan, dan pengolahan limbah (sanitasi).
Pola penyusunan dan perkembangan tata letak yang merupakan proses pembentukan suatu area waterfront sebagai berikut (Wrenn, 1983):
·           Awalnya berkembang dari arah perairan, yaitu dengan dibangunnya beberapa sarana yang menunjang fungsi utama dari area waterfront.
·           Ketika area waterfront mulai ramai dikunjungi dan ditempati orang maka terjadilah perluasan lokasi dan penyebaran ke arah daratan.
·           Pertambahan penduduk yang tinggal mendorong munculnya beberapa sarana penunjang lainnya, seperti dermaga kecil,  jalur sirkulasi tambahan, dan sebagainya.
·           Seiring pertambahan penduduk dan aktivitas yang semakin banyak maka dibuatlah beberapa saluran kanal di area waterfront. Hal ini bertujuan untuk tetap mempertahankan ikatan visual dan karakter pada area waterfront, dan membuat pemisah buatan yang memisahkan secara jelas fungsi-fungsi yang ada pada site.
Pola susunan massa dan ruang pada zona-zona yang berada di area waterfront harus mengacu dan berorientasi ke arah perairan. Apabila hal ini tidak diterapkan maka area tersebut akan kehilangan ciri khas dan karakternya sebagai waterfront. Zona-zona yanng ada di area waterfront tercipta karena area waterfront merupakan suatu area yang menjadi tempat bertemu dan berintegrasinya beberapa fungsi kegiatan menjadi satu. Pada umumnya, zona yang berada langsung berbatasan dengan daerah perairan utama mempunyai fungsi-fungsi kegiatan utama yang bersifat publik sehingga dapat diakses dari segala arah oleh semua orang. Setelah zona utama terbentuk barulah kemudian disekitarnya dibangun zona-zona ruang yang lebih kecil yang berisi fungsi-fungsi penunjang kawasan utama tersebut atau berisi daerah permukiman penduduk.

2.2        Mangrove

2.2.1     Definisi Mangrove
Kata mangrove berasal dari kata mangue (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan, dengan grove (bahasa Inggris) yang berarti belukar. Sementara itu dalam literatur lain disebutkan bahwa istilah mangrove berasal dari kata mangi-mangi (bahasa Melayu Kuno). Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas dan kedua sebagai individu spesies (Supriharyono, 2000). Mangrove adalah pohon atau perdu yang tumbuh di pantai di antara batas-batas permukaan air pasang tertinggi dan sedikit di atas rata-rata permukaan air laut (Hardjosentono, 1978). Selanjutnya Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian (1982) mendefinisikan hutan mangrove lebih spesifik lagi, yaitu tumbuhan yang berkembang di daerah tropika dan sub tropika pantai di antara batas-batas permukaan air pasang dan sedikit di atas rata-rata dari permukaan air laut.
Hutan mangrove sering disebut hutan bakau. Istilah hutan bakau hanya merupakan nama dari salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove yaitu jenis Rhizophora sp. Mangrove sudah ditetapkan sebagai nama baku untuk mangrove forest (Dahuri dan Arumsyah, 1994). Hutan mangrove sering dianggap sebagai suatu ekosistem lain dan mempunyai ciri-ciri khusus baik dari segi iklim, formasi tumbuhan dan faktor edafis. Hutan mangrove disebut juga hutan pantai (coastal woodland) atau hutan pasang surut (tidal forest). Hutan mangrove merupakan formasi hutan yang tumbuh dan berkembang pada daerah landai di muara sungai dan pesisir pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

2.2.2     Fungsi Hutan Mangrove
Hutan mangrove memiliki peran ekologis yang besar bagi kehidupan manusia. Telah berabad-abad lamanya dijadikan tumpuan jutaan orang yang hidup di pesisir. Hutan ini memiliki banyak fungsi mulai dari penyedia sumber makanan, bahan baku industri, mencegah banjir, mencegah erosi, hingga fungsi rekreasi. Berikut ini beberapa fungsi utama hutan mangrove:
1.         Menahan Abrasi
Hutan mangrove tumbuh disepanjang garis pantai seakan-akan memisahkan antara lautan dan daratan. Keberadaan mangrove menghambat gelombang dan angin yang datang dari arah laut agar tidak langsung membentur daratan. Di daerah-daerah yang memiliki tutupan mangrove hampir tidak ditemukan aberasi parah. Bahkan di daerah-daerah tertentu keberadaan mangrove melindungi pemukiman, pertanian dan fasilitas lain yang terdapat dibelakangnya.
2.         Membentuk Lahan Baru
Vegetasi mangrove mempunyai kemampuan untuk memerangkap sedimen lumpur yang di bawa dari arah daratan. Akar-akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur, terjadi konsolidasi sedimen di hutan mangrove. Sifat memerangkap sedimen ini dihubungkan dengan kemampuan hutan mangrove untuk menciptakan daratan baru. Pertumbuhan hutan mengrove yang terus merangsek ke laut disinyalir bisa menambah luas daratan, meski hal ini masih diperdebatkan.
3.         Mencegah Intrusi Air Laut
Beberapa jenis mangrove mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap salinitas air laut. Salah satunya dengan kelenjar khusus pada daun yang dapat mengeluarkan garam. Lapisan mangrove paling depan (mengarah ke laut) biasanya mempunyai kemampuan beradaptasi dengan salinitas tinggi. Semakin ke belakang areal mangrove semakin tawar. Dengan adanya kemampuan ini, hutan mangrove dipercaya bisa mencegah intrusi air laut.
4.         Menyediakan Makanan Dan Material
Sudah diketahui sejak lama bahwa hutan mangrove merupakan tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting, moluska dan hewan-hewan lainnya. Keberadaan hutan mangrove berkorelasi positif dengan produksi perikanan setempat. Ikan-ikan bernilai komersial tinggi banyak yang mengandalkan mangrove sebagai tempat regenerasi. Sebagai contoh, menurunnya produksi ikan di Bagan Siapi-api disebabkan oleh rusaknya habitat mangrove. Padahal di era perang dunia II daerah ini merupakan penghasil ikan utama dunia. Selain sumber makanan, hutan mangrove juga diambil kayunya untuk bahan bangunan dan industri. Konon pulp yang diambil dari kayu mangrove merupakan bahan untuk kertas premium. Kayu bakar dari mangrove juga terkenal bermutu tinggi. Selain itu, mangrove dimanfaatkan untuk diambil tanin-nya.
5.    Sumber keanekaragaman hayati
Hutan mangrove merupakan sumber plasma nutfah dan keanekaragaman hayati. Selain ikan, hutan ini menjadi habitat hidup berbagai satwa mulai yang umum hingga satwa langka. Mulai dari jenis-jenis burung hingga primata.

2.2.3     Zonasi Hutan Mangrove
Menurut Bengen (2001) flora mangrove umumnya tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah :
1.        Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
2.        Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat erosi tanah, tingginya muka air dan drainase.
3.        Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam serta pasokan dan aliran air tawar.
4.  Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.
5.         Pasokan dan aliran air tawar
Menurut struktur ekosistem, secara garis besar dikenal tiga tipe formasi mangrove, yaitu :
1.        Mangrove Pantai : tipe ini air laut dominan dipengaruhi air sungai. Struktur horizontal formasi ini dari arah laut ke arah darat adalah mulai dari tumbuhan pionir (Avicennia sp), diikuti oleh komunitas campuran Soneratia alba, Rhizophora apiculata, selanjutnya komunitas murni Rhizophora sp dan akhirnya komunitas campuran Rhizophora–Bruguiera. Bila genangan berlanjut, akan ditemui komunitas murni Nypa fructicans di belakang komunitas campuran yang terakhir
2.        Mangrove Muara: pengaruh oleh air laut sama dengan pengaruh air sungai. Mangrove muara dicirikan oleh mintakat tipis Rhizophora spp. Di tepian alur, diikuti komunitas campuran Rhizophora – Bruguiera dan diakhiri komunitas murni N. fructicans
3.        Mangrove sungai : pengaruh oleh air sungai lebih dominan daripada air laut, dan berkembang pada tepian sungai yang relatif jauh dari muara. Jenis-jenis mangrove banyak berasosiasi dengan komunitas daratan.
Berdasarkan Bengen (2001), jenis-jenis pohon penyusun hutan mangrove, umumnya mangrove di Indonesia jika dirunut dari arah laut ke arah daratan biasanya dapat dibedakan menjadi 4 zonasi yaitu sebagai berikut :
1.        Zona Api-api – Prepat (Avicennia – Sonneratia)
Terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek (dangkal), dengan substrat agak berpasir, sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zona ini biasanya didominasi oleh jenis api-api (Avicennia spp) dan prepat (Sonneratia spp), dan biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora spp).
2.        Zona Bakau (Rhizophora)
Biasanya terletak di belakang api-api dan prepat, keadaan tanah berlumpur lembek. Pada umumnya didominasi bakau (Rhizophora spp) dan di beberapa tempat dijumpai berasosiasi dengan jenis lain seperti tanjang ( Bruguiera spp )
3.        Zona Tanjang (Bruguiera)
Terletak di belakang zona bakau, agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak keras, agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya ditumbuhi jenis tanjang (Bruguiera spp) dan di beberapa tempat berasosiasi dengan jenis lain.
4.        Zona Nipah (N fruticans)
Terletak paling jauh dari laut atau paling dekat ke arah darat. Zona ini mengandung air dengan salinitas sangat rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang dipengaruhi pasang surut dan kebanyakan berada di tepitepi sungai dekat laut. Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (N fruticans) dan beberapa spesies palem lainnya.

2.3       Best Practice

Best practice yang digunakan untuk mendukung konsep ada tiga jenis, yakni:
1.         Mangrove Information Center (Pusat Informasi Mangrove) di Bali Selatan.
Lokasi kawasan mangrove tersebut di bypass Ngurah Rai.Wisata mangrove di Bali ini berbasis pada pemberdayaan atau budidaya mangrove. Wisata disini menyajikan tracking mangrove dimana wisatawan dapat menelusuri hutan mangrove hanya dengan berjalan kaki melalui jembatan-jembatan kayu di sepanjang hutan mangrove. Tidak hanya pemandangan mangrove yang akan terlihat selama menelusiri jembatan ini, wisatawan juga dapat melihat spesies-spesies lain seperti burung-burung dan berbagai tanaman lainnya. Wisata mangrove ini sudah dikunjung oleh banyak wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Promosi yang dilakukanpun sangat gencar melalui iklan-iklan tour yang ada di website.
Aspek pengembangan dari perancangan kawasan mangrove yang akan dilakukan di Kelurahan Mangunharjo tidak jauh berbeda dengan pengembangan kawasan mangrove yang terletak di Bali. Pada dasarnya penetapan konsep “Wisata Keluarga Hutan Mangrove Mangunharjo” di Kelurahan Mangunharjo ini nantinya akan fasilitasi dengan mangrove trail berupajembatan-jembatan kayu di sepanjang hutan mangrove agar pengunjung bisa mengenal mangrove lebih dekat. Untuk mengelilingi kawasan mangrove juga disediakan port yang ramah lingkungan dilengkapi dengan parkirnya.
2.         Wisata Anyar Mangrove di Surabaya.
Wisata Anyar Mangrove adalah objek wisata mangrove di Surabaya yang berada di sisi timur Kota Surabaya, tepatnya di Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Hutan mangrove ini adalah salah satu potensi konservasi alam yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata di Kota Surabaya. Berkembang dari keinginan untuk menyelamatkan kawasan ini dari kerusakan abrasi, dengan swadaya masyarakat kawasan tersebut telah berhasil disulap menjadi sebuah kawasan wisata alam di Surabaya. Hutan mangrove yang membentang luas ini dihuni oleh 147 spesies burung, ada 12 spesies diantara keseluruhan yang merupakan jenis hewan yang dilindungi.
Beberapa jenis burung yang kerap terlihat adalah burung air seperti kuntul perak, kowak malam, mandar padi, pecuk hitam, dan mandar batu. Diketahui 44 di antaranya merupakan jenis burung igran yang singgah dan tidak menetap. Burung migran ini kebanyakan berasal dari Australia dan menuju Eropa. Pengunjung dapat menelusuri kawasan mangrove dengan menggunakan perahu motor atau dengan berjalan kaki menggunakan jembatan-jembatan kayu. Adanya spesies yang beragam membuat kawasan mangrove memiliki kesan nyaman dan sejuk. Adanya keanekaragaman spesies pada kawasan mangrove tersebut menimbulkan potensi yang dapat dijadikan sebuah wisata edukasi dengan melihat karakteristik anatomi flora maupun fauna yang ada pada kawasan mangrove.
Perancangan mangrove yang ada di Surabaya dipilih sebagai salah satu best practice dikarenakan adanya abrasi yang juga pernah terjadi di Kelurahan Mangunharjo sebagai wilayah studi. Aspek yang akan dikembangkan dalam konsep perencanaan juga memperhatikan aspek konservasi dengan tujuan mencegah rob dan abrasi pantai di Pantai Utara Kota Semarang. Dalam mewujudkannya, konsep perancangan “Wisata Keluarga Hutan Mangrove Mangunharjo” akan dilakukan pembibitan dan pemeliharaan mangrove. Diharapkan, dengan peningkatan hutan mangrove bisa menjadi wisata alam dimana terdapat flora dan fauna yang beranekaragam spesiesnya, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi tapi juga edukasi bagi pengunjung. Keberadaan mangrove trail membantu pengunjung untuk dapat mengenali flora maupun fauna yang ada pada kawasan tersebut lebih dekat dengan berjalan kaki.
3.         Kawasan Mangrove di Taman Sundarbans, India.
Penanaman mangrove di Taman Sundarbans dilakukan dengan pendampingan khusus guna mencegah penanaman yang tidak sesuai dengan zonasi yang telah ditetapkan yang nantinya akan mengakibatkan rusaknya ekosistem yang ada. Selain itu, pada kawasan mangrove di Taman Sundarbans, India juga terdapat zona-zona perlindungan dan lokasi penelitian sehingga kegiatan wisata tidak mengganggu habitat biota yang ada. Pengunjung juga dapat ikut serta dalam beberapa penelitian yang dilakukan di lapangan, akan tetapi setiap wisatawan yang berkunjung harus memiliki izin yang dikeluarkan langsung oleh pihak Dinas kehutanan. Kawasan mangrove tersebut nantinya akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana dengan zonasi kawasan yang jelas dan tertata rapi. Lokasi kawasan wisata tersebut juga  dilengkapi dengan fasilitas wisata kuliner, toko souvenir dan fasilitas pendukung lain yang dapat dijadikan lahan bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan.
Perancangan kawasan mangrove yang ada di Taman Sundarbans dipilih sebagai salah satu best practice mengingat konsep “Wisata Keluarga Hutan Mangrove Mangunharjo”, ini akan dilengkapi dengan pusat penelitian ekosistem mangrove. Pusat penelitian ini akan difungsikan sebagaibentuk pusat pembelajaran guna mengantisipasi masalah atau ancaman yang terjadi pada hutan mangrove. Wilayah pesisir merupakan habitat utama dari hutan mangrove yang kadang memicu konflik kepentingan, sehingga ekosistem di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman dan masalah perusakan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Melalui pusat penelitian ini diharapkan, dampak dari perancangan kawasan yang direncanakan tidak membawa kerugian bagi ekosistem mangrove yang ada. Oleh karena itu perlu pengawasan untuk mencari langkah-langkah strategis bagi pengembangan hutan mangrove selanjutnya.
Sesuai dengan konsep wisata mangrove keluarga ini, dalam perancangan kawasan akan dilengkapi dengan adanya sarana dan prasarana yang mendukung, seperti resort pantai keluarga, area pemancingan dan pembudidayaan ikan dan udang, dan ocean front resto. Adanya keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut nantinya akan mempermudah promosi lokasi wisata dengan sebuah konsep paket wisata lengkap ketika mengunjunginya. Selain itu, perancangan kawasan wisata mangrovekeluarga ini tidak hanya memperhatikan  kondisi fisik kawasan saja, melainkan  juga memperhatikan pola masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan mangrove yang terletak di Mangunharjo. Pada dasarnya pentingnya penekanan partisipatif masyarakat sangat diperlukan, dimana masyarakat tidak melakukan pemeliharaan hanya dengan tujuan ekonomi melainkan diimbangi dengan tujuan ekologis demi keberlangsungan mangrove.

2.4        Bad Practice

Sumber : Anonim, 2010
Gambar 2. 1 Jembatan Kawasan Wisata Sei Carang Tanjungpinang

Wisata Mangrove Sei Carang Tanjungpinang merupakan salah satu contoh kawasan wisata mangrove yang gagal dalam pemanfaatannya. Kondisi objek wisata hutan mangrove yang terletak di Sungai Carang sangat memprihatinkan termasuk jembatan yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk menyusuri hutan mangrove tersebut mengalami kerusakan parah. Jembatan yang terbuat dari kayu tersebut sudah banyak yang lapuk dan terlepas dari penyangga. Bahkan, pegangan pada jembatan pun sudah tidak ada lagi. Kondisi ini akan sangat membahayakan bagi wisatawan yang berkunjung. Hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam perancangan kawasan wisata Mangunharjo yang juga merancang mangrove trail. Mangrove trail dalam rancangan wilayah studi bukanlah satu-satunya jalur transportasi yang digunakan untuk pengunjung. Hal ini dapat mengurangi resiko pelapukan kayu secara cepat karena kapasitas orang yang melewatinya terbagi dengan jalur lain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar